Cerpen "Ayah", seseorang yang tak pernah ada
J'AIME MON PERE
Tampak beberapa deret mobil yang menghiasi sepanjang jalan. Dan jauh di balik pemandangan mobil-mobil yang sudah jenuh kulihat di sini maupun di Jakarta, aku berdiri di bawah menara Eifel. Menara populer yang dikunjungi orang dari berbagai belahan dunia. Siapa saja yang berada di bawahnya akan ikut terbawa arus hidup untuk bersantai sejenak. Mengenang arti sebuah kasih sayang, kasih sayang yang buat orang akan merasa dirinya punya alasan hidup. Sederhananya, orang-orang menyebut kota paris dengan sebutan kota cinta, kota romantis atau ada pula yang menjulukinya kota kasih sayang.
Sebenarnya itu memang tujuanku ke Paris. Aku ingin mengenang sebuah arti kasih sayang. Mungkin lebih tepatnya merenungi. Lebih dari itu, ada satu hal yang paling penting dalam hidupku yang sulit untuk ku gapai. Aku ingin bertemu ayah. seseorang yang sering aku tanyakan pada ibu saat aku kecil dulu. “Bu, Dinda punya ayah ya?”, “Punya sayang”. “Ayah dimana bu?”, “ayah kan kerja..”. “Kok nggak pulang-pulang?”, “Mungkin lagi sibuk kerjanya”. “Ayahnya temen aku juga sibuk, tapi tetep pulang”, “Nanti ayah pulang kok”. “Bu, wajah ayah gimana sih? Pasti ayah ganteng”, “ini ibu kasih fotonya”.
Untuk pertanyaan terakhirku, ibu memberi sebuah lembaran kertas bergambar foto ayah yang menggendongku saat aku masih bayi. Foto hitam putih tersebut aku pajang di dinding kamar. Dan semenjak itu tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulutku mengenai ayah. Aku mengerti, dan akupun tahu ayah pergi bekerja untuk kami, untuk aku dan ibu. Meskipun Ayah selalu kirim uang tiap bulan, namun ia tak pernah mengirim kabar. Terakhir yang kutahu, ia berada di pulau Kalimantan. Tempat yang jauh, bahkan bermil jauhnya dari Jakarta. Ayah tak pernah pulang. Oleh karena itu aku tak pernah melihat langsung wajahnya. Tetapi kata ibu ayah punya alis tebal, punya mata tajam, dan tidak suka membiarkan kumisnya panjang.
Aku ke Paris untuk mengobati rasa rinduku pada ayah. Ku dengar, beberapa tahun ini ayah sudah tidak tinggal di Kalimantan dan merantau ke Paris. Aku hanya berbekal nama ayah. yang kutahu, nama ayahku Surya Suheru. Dan untuk mencukupi kebutuhanku di Paris, aku bekerja menjadi pelayan di sebuah toko roti milik monsieur Martin. Ia juga orang Indonesia yang kemudian berganti kewarganegaraan. Beruntung aku mengenalnya. Ia adalah orang yang baik dan sering memberiku roti untuk ku bawa pulang ke kos-kosan.
Seperti biasa, selesai bekerja, disamping aku memperoleh roti, aku mendapati cokelatku yang hilang. Padahal tas merahku tetap berada di meja dapur. Yasmin, anak perempuan monsieur Martin mendekatiku sambil menunduk. “Pardon moi, (maaf). Aku mengambil coklat kakak”. Oh, barulah aku tahu bahwa Yasmin pelakunya. Akhirnya semenjak pengakuan Yasmin tersebut, aku selalu memberinya cokelat.
Baru beberapa bulan di Paris, namun aku seperti sudah mempunyai kehidupan baru sejak bertemu keluarga monsieur Martin. Sejenak, kutinggalkan misiku tentang ayah dan ku berpaling untuk menikmati hari-hariku. Hampir tiap minggunya ibu bertanya padaku tentang ayah. Namun, aku selalu menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku belum berjumpa dengan ayah bu”. Dan setiap aku menjawab belum, ibu langsung menangis. Jika sudah dalam situasi ini, aku akan mengiyakan segala permintaan ibu.
Diriku semakin tertekan. Apalagi bila suara tangis ibu terngiang di telinga, rasanya aku ingin segera membawa pulang ayah. Maka kuputuskan untuk seharian mencari keberadaan ayah. Aku membawa foto ayah dan bertanya kepada siapa saja yang kutemui. Ini adalah cara terakhirku setelah tak berhasil melalui sosial media. Namun tampaknya musim penghujan membuat Paris di selimuti hujan deras. Aku berteduh dibawah menara eifel. Bajuku basah kuyup hingga membuatku menggigil. Kulihat, orang-orang berlalu lalang membawa payung. Menara Eifelpun kini hanya menyisakan aku seorang. Aku menatap langit dan mencium aroma hujan di Paris. Semilir angin membawaku ke masa silam, aku menutup mata dalam-dalam, di benakku yang ada hanyalah ibu, namun aku tak menemukan sosok ayah. Perlahan kepalaku menjadi pusing dan pikirku hilang dalam benak.
Perlahan aku membuka mata. Disekelilingku ada Yasmin dan monsieur Martin. Dan.., sepertinya aku benar-benar ada di kamarku. Suasana hening apalagi saat Yasmin disuruh ayahnya keluar dari kamarku. Kulihat, monsieur Martin tampak berkaca-kaca, lalu ia memelukku. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi, akupun bingung dengan tingkah laku monsieur. “kau harus tahu Dinda. Aku orang yang kau cari-cari” Deg! Aku terkejut mendengar monsieur Martin berkata dengan diselingi isak tangisnya. Orang yang aku cari? Memangnya dia tahu aku sedang mencari siapa?
Aku segera melepas pelukan monsieur Martin, dan menatap matanya yang tajam. Aku kembali ingat bahwa ayah juga punya mata tajam. Mata itu persis di foto, namun wajahnya tidak mirip sama sekali. “Din, ini ayah” monsieur Martin melanjutkan perkataannya. Sedangkan aku hanya termangu dan hampir tak percaya dengan yang kudengar. “A..yah? kok tidak mirip dengan yang di foto?” aku mengelak monsieur Martin. “Din, itu foto 20 tahun yang lalu. Wajah ayah berbeda dengan sekarang nak”. Monsieur Martin menjelaskan panjang lebar mengenai ibu, mengenai pekerjaannya di Kalimantan hingga bagaimana ia bisa sampai ke Paris dan menikah dengan madam Silvy.
Aku memandang ke lampu kamar yang sudah agak remang-remang, lalu tetes air keluar begitu saja dari mataku. Monsieur Martin terus melihatiku seakan memohon belas maaf dariku. Aku menghela nafas, aku benar-benar tak percaya orang yang ada di hadapanku inilah orang yang selalu aku tangisi menjelang tidurku, orang yang paling ingin aku temui di dunia ini. Orang yang buatku menganggap kasih sayang sebagai hal yang sangat berharga. Dan andai monsieur Martin tahu, selama nadi masih mengalun, selama nafas masih berhembus, dalam doa akan selalu ku sebut nama ayah. Nama ayah yang kini berganti nama lain.
Suasana masih hening, namun tak begitu sunyi. Kami saling berpangku dalam suasana haru dengan ditemani hujan deras malam itu. “J`aime mon pere. (aku sayang ayah)” bisikku pada ayah, hingga membuat ayah tersenyum namun tetap dalam derasnya air mata sederas hujan yang turun.


Komentar
Posting Komentar