Cerpen Negeri Para Pemburu

         
NEGERI PARA PEMBURU
      


              Seorang lelaki tua yang rambutnya sudah beruban berjalan tertatih duduk di bundaran dekat tugu pahlawan. Pakaiannya batik dan sarung yang belum disetrika membuatnya seperti orang jalanan yang biasa meminta sedekah ke rumah-rumah warga. Namun seringkali orang menilai orang dari penampilan luarnya tanpa menengok lebih dalam. Ibarat buku, orang akan memilih sampul yang menarik untuk dibeli tanpa memikirkan isinya. Orang-orang yang lalu lalang mungkin tak akan percaya orang tua yang berpakaian sederhana itu bisa menguasai 4 bahasa. Mungkin mereka akan melakukan verifikasi dulu jika memang benar bapak tua tersebut pernah ke 5 negara. Sebut saja namanya Pak Nugroho. Pelajar Indonesia di Paris sebelum ia diminta pulang ke tanah air tahun 1998. Ia merasa masa mudanya bermakna meski ia tak punya kepiawaian lain selain berbohong dan berdiplomasi. Apapun itu, dulu orang berbakat sangat dihargai. Tidak masalah apapun bakat anda. Mengoceh dan berdebatpun punya nilai yang tinggi.

           Begitu lucu memang negeri ini. Sistem pendidikan yang menumpahkan bakat eksakta pada bakat yang lain. Seringkali mengikis sisa bakat anak-anak yang istimewa bahkan menganggap standar anak pintar adalah yang bisa mengerjakan Matematika, Sains, dan bahasa Indonesia. Sebaliknya mereka dianggap bodoh karena tak mampu mengerjakan ekonomi atau Geografi. Miris memang. Semiris anak pak Nugroho. Kejadiannya membuat ia turun tangan menemui guru SMP anaknya. Ketika itu, anaknya dianggap sangat bodoh. Tak sungkan disebut idiot karena nilai-nilai rapor yang jelek. Antonio anak satu-satunya ditertawakan satu kelas saat gurunya menyebutnya seorang idiot yang tak punya masa depan. Membuat Pak Nugroho berbalik menyebut guru itu Biadab tak punya moral. Mereka berdebat merasa saling benar. Hingga akhirnya Pak Nugroho menantang guru itu mengadu murid. Murid yang dianggap jenius dan dianggap bodoh diadu dalam hal Matematika dan Sains. Jelas sang jenius pemenangnya.

        Di sesi selanjutnya, adalah adu seni. Membuat lukisan abstrak yang hanya seniman berpengalaman bisa menilai. Mereka murid dengan cap bodoh membuat coretan sesuai ilusi dan imajinasi. Mereka dijamin kemenangannya oleh seniman yang menilai. Tim pak Nugroho dalam hal melukis menang telak. Dalam hal tenis meja, Voli, sepakbola, anak-anak bodoh lebih pandai. Membuat patung, mengoperasikan komputer, mesin, mereka juga lebih paham. Sekali lagi, pak Nugroho menampar standar guru yang menjuluki anaknya seorang idiot. "Murid-murid mu yang kau anggap bodoh lebih pandai di komputer, di seni, di olahraga.. Lihat bapak guru yang terhormat. Murid jenius mu terlihat dungu saat kau suruh mereka mengerjakan itu semua. Kalau anda mengikutsetakan seekor ikan untuk lomba memanjat, sungguh suatu pembodohan yang luar biasa." Kata-kata perih yang dilontarkan pak Nugroho kala itu membuat para guru yang menyaksikan terdiam. Orang dengan pakaian layaknya pemulung bisa berpikir kritis melebihi pemikiran Mentri pendidikan sekalipun. Mereka bertanya-tanya, siapa sebenarnya bapak dari murid bernama Antonio. Menggerutu, membela anaknya yang kadang diselingi bahasa Inggris dan itupun hanya dipahami oleh guru bahasa Inggris yang menyaksikan perdebatan sengit tersebut.

                    Hembusan angin yang diiringi rintik tipis menepis lamunan pak Nugroho. Ia tersenyum mengingat masa anaknya masih SMP. Tugu pahlawan mengingatkannya pada guru itu. Kemarin guru itu datang kerumah menemui Antonio. Mengakui persepsinya yang salah saat dulu mengatakan Antonio adalah idiot yang tak punya masa depan. "Bapakmu benar nak. Setiap anak terlahir jenius. Mungkin aku dulu amnesia bahwa kau jenius dalam urusan mesin. Sahabatmu Anwar juga jenius dalam melukis. Oh iya Sahrul sekarang kerja di Singapura. Aku dulu melupakannya sebagai si jenius dalam berdebat." Pak Joko, guru yang sudah keriput wajahnya itu tersenyum sambil meneteskan air mata. Mengingat betapa bodohnya dirinya yang mengagungkan si Jenius Matematika, si jenius Sains hingga mengacuhkan murid yang lain. Sungguh betapa tak bermoral saat ia menyebut kata anak bodoh.

                   Pak Nugroho berdiri beranjak dari tempat duduknya. Ia memang suka berada di bundaran didekat tugu pahlawan. Mengenang arti pahlawan yang lalu lalang dalam hidupnya dan iapun percaya guru adalah pahlawan untuk anaknya, Antonio. Ia tak punya tanggungan lagi. Antonio sudah jadi pengusaha sukses yang tentunya tak perlu ia bimbing. Ia menggeleng, melihat segerombolan anak kecil mengamen di lampu merah. Menjual koran dan ada juga yang menjual minuman. Sesekali ia menghela nafas dalam-dalam. Betapa lucunya negeri ini. Setiap anak yang terpendam potensinya membutuhkan wadah untuk menggali. Tetapi, para penguasa masih asyik memburu orang-orang yang berstandar sumber daya manusia tanpa tahu bagaimana menumbuhkannya. Mereka lebih suka berburu, mereka mencari yang instant, mereka masih minim persiapan. Sungguh, betapa lucunya penguasa negeri para pemburu.

Komentar

Postingan Populer