Cerpen Misteri Gucci
Jadi Cerpen misteri Gucci ini adalah salah satu cerpenku bertema ibu dan juga dunia fantasi.
Misteri Gucci
Selamat datang di dunia fantasi Gucci. Di dunia kami, semua hal yang tak mungkin akan bisa kau dapatkan. Kau tak perlu bertanya apa syaratnya, cukup berkhayal sebagaimana imajinasimu mencapai langit. Lalu, saat kau tepat berada di awan, lakukan apa yang kau ingini meskipun itu mustahil. Di alam Gucci ini, ilusi optik membuatnya nyata.
Perlu kau ketahui, untuk menjadi penduduk Gucci kau harus berpikir berulang kali karena sekali saja kau merasakan indahnya fatamorgana, kau tak akan ingin keluar dari anganmu itu. Dan aku sendiri sebenarnya adalah salah satu korban dari betapa menggiurkannya negeri para pemimpi ini. Para pemimpi? Mungkin kau suka mendengar kata pemimpi, atau jika kau tak suka maka kau sependapat denganku.
"Justino, Kau bisa berkhayal seperti yang kau inginkan. Tetapi jangan pernah berimajinasi tentang masa depan." Seorang gadis dengan senyum manis berdiri di depanku. Ia tampak anggun menggunakan gaun ungu. "Memangnya kenapa? Apakah ada aturan baru yang melarang untuk itu?" Tanyaku padanya, ia hanya menggeleng dan masih tersenyum tipis.
"Setiap kali imajiku sudah sampai di langit, kadang khayalanku menjadi nyata kadang juga tidak. Kau tahu Amora, aku sangat berharap bisa pergi ke planet lain. Tetapi aku tidak tahu kapan imajinasiku bisa sampai untuk kesana." Aku meneguk minuman dimeja kecil dekat kursi yang kududuki. Amora yang sedari tadi berdiri lalu mengangkat bahunya.
"Apakah semediku kurang fokus sehingga tidak bisa terwujud ya? Bagaimana menurutmu?" Kali ini aku menaruh gelas kosong di meja. Amora tetap diam dengan mengernyitkan kening.
"Kenapa kau hanya diam? Apa kau bisu? Kurasa pendengaranmu baik-baik saja." Amora tetap tidak menjawab. Semenjak itu, aku menjadi penasaran tentang masa depan.
Negeri Gucci mempunyai dunia yang abstrak. Kau bermimpi untuk terbang bersama burung-burung dan jika kau fokus membayangkannya maka ilusi optik menjadikan hal itu real. Sama halnya saat kau melihat air di gurun Sahara, maka sekali lagi itu hanya ilusi optik.
Ada satu impian yang belum aku dapatkan di alam Gucci. Aku ingin sekali pergi ke planet Baka. Planet dimana orang yang sudah tiada berpulang. Di sanalah ibuku tinggal. Akan kubayangkan bagaimana wajah ibuku dengan sedikit keriput dan senyum yang sangat cantik. Senyum yang sangat kurindukan sejak aku kecil. Ya,, dia benar-benar cantik. Rambutnya terurai dan memakai pakaian serba putih. Perlahan ia berjalan menuju tempatku. Dia memandangiku dengan tatapan yang tenang. Tatapan yang terdapat kedamaian didalamnya. Tatapan yang mengandung kasih sayang tulus. Tatapan indah yang buatku merasa nyaman berada bersamanya. Tatapan manja yang selalu kunanti untuk sekedar mencurahkan seberkas rasa dihati.
Perempuan itu mulai menyunggingkan bibirnya, lalu ia memegang pundak kiriku. "Justino,, kau sudah sampai nak, kau menyusul ibu secepat ini. Oh, tapi ibu memang sangat ingin bersamamu" Ibu itu berkata begitu halus, tetapi aku hanya terdiam memandanginya. Aku terus melihatinya tanpa berkedip. Apa dihadapanku ini benar ibu?. "Kau masih mengingat ibu kan Justin.., kau tidak lupa pada ibumu kan?”
Aku melihati perempuan ini mulai dari bawah sampai atas. Tiba-tiba aku teringat, dia memang ibuku. Aku langsung memeluknya erat. Pelukan hangat dari ibu membuatku merasa nyaman, hingga aku benar-benar menikmati saat-saat yang sangat berharga ini. Kurasa, begitupun dengan ibu. Ia mendekapku dengan sangat erat. Sepertinya ia tidak ingin kehilangan buah hatinya untuk kedua kali.“Bu, aku tidak ingin jauh dari ibu” Bisikku pada ibu. Ibu hanya tersenyum dan semakin memelukku dengan amat erat. Oh Tuhan, aku benar-benar dalam dekapannya. Imajiku benar-benar telah sampai pada planet Baka. Terimakasih tuhan telah menyatukan ku dengan Ibuku. Oh, tunggu sebentar. Aku menyatu,,?? Tidak, ini ilusi optik, ini tidak nyata!!!
Deg! Jantungku berdetak kencang. Seseorang yang mendekapku perlahan hilang seperti asap pabrik yang mengepul. Lalu diseret oleh angin yang menjadikannya tiada. Tanpa isyarat,, aku terbangun dari khayalanku. "Bangunlah, Justin,, anganmu telah sampai di awan. Kau mengacuhkanku sedari tadi." Perempuan itu menamparku dengan sangat keras. "Ibu??" Aku hampir memeluknya, tapi ia langsung berlari. "Hey, apa kau gila?" Ya, aku mungkin memang telah gila,, ia Amora, sahabatku dalam bermimpi.
"Aku telah berhasil ke planet itu Mora, ibuku sedang menungguku di sana" "Benarkah? Kurasa Gucci telah membantumu mencapai sana"
"Amora, kau tersenyum lepas. Tetapi aku tidak bisa tersenyum sekarang. Aku memang benar-benar harus pergi kesana"
"Maksudmu?" Kali ini Amora bertanya amat penasaran.
"Aku tahu maksudku, Aku harus tiada untuk menjadi penghuni planet Baka."
"Kurasa kau menghilangkan akalmu. Hidupmu masih panjang." Ia marah dengan wajah yang amat buruk. Aku tidak tahu mana yang benar sekarang. Aku ingin sekali menyusul ibu. Pisau buah berada di meja. Tepat sekali, aku bisa mengakhiri diriku sekarang dan aku akan segera bertemu ibu, Sherly dan Mario. Semua teman-temanku ada di sana juga. Aku segera mengambil pisau dan bersiap menggoreskannya ke tangan persis di bagian nadi. Tetapi, Amora menangis di dekat pintu,, air matanya berjatuhan seperti derasnya hujan malam ini. Aku menjadi bimbang. Air matanya semakin deras. "Jaga dirimu baik-baik Mora.". Ia diam, hanya tangisnya yang bersuara.
"Aku juga ingin ikut denganmu" Ia tetap menangis dan menggeleng kepala.
Ya tuhan, sekali lagi, aku ingin bertemu ibu, memintanya untuk bersabar. Aku akan menyusulnya, tetapi ini bukan waktu yang tepat.
"Kau bisa menemui ibumu kapan saja karena sekali kau membayangkan masa depan, Gucci akan selalu memberimu imaji tentang itu,, tetapi bukankah itu menyakitkan? Kau hanya bertemu ibumu dalam fiksi saja Justino" Dengan suara yang rapuh Amora lagi-lagi membujukku.
Aku mengangguk, aku memahami perkataanya dengan benar. Kau betul Mora,, aku akan selalu mengunjungi ibuku dalam angan yang belaka. Hanya itu. Hanya itu yang sangat ku harapkan dari alam Gucci. Mungkin aku memang terlahir sebagai pemimpi sejati, entah sampai kapan. Yang pasti selama hidup aku akan selalu bermimpi hingga aku sampai di dunia yang berbeda. Dunia Baka. ----





Komentar
Posting Komentar