Cerpen Hanya Sebatas Rindu
- Hello kawan, kali ini aku mau share salah satu cerpenku yang bertema ibu. Semua orang pasti menganggap ibunya adalah ibu terbaik di dunia. Bener ngga nih? Wkwk.
HANYA SEBATAS RINDU
Kami baru saja keluar dari gerbang penjara yang sempit dan kumuh. Kami tak tahu bagaimana bisa kami bertahan ditempat yang tak layak itu. Sejenak, kami duduk bersama didepan kios yang berjajar rapi menghiasi sepanjang jalan. Dengan beralaskan kardus-kardus bekas yang berserakan, kami beristirahat melepas segala penat dan lelah. Aku baru ingat, sepertinya tempat inilah tempat terakhir bagaimana aku masih hidup dengan sewajarnya. Aku masih mengingatnya betul, tulisan dipapan pojok gang yang bertuliskan Tambal Ban Barokah. Tulisan itu seperti begitu familiar bagiku. Entah mengapa seperti itu, mungkin ada kenangan lain dibaliknya.
Lampu jalan mulai padam, hanya beberapa lampu kuning remang-remang yang tetap dibiarkan menyala, seperti harapan di hati kami yang harus terus menyala, sekecil apapun nyala itu. Aku benar-benar tak percaya, aku, Dimas dan Jefry benar-benar telah keluar dari penjara yang sangat mengerikan. Rasanya sudah 10 tahun kami di kurung dalam kandang , padahal baru 4 tahun kami menjadi penghuninya. Kami tidak bisa lupa, saat beberapa orang dengan badan kekar, bertato bahkan ada yang memakai anting-anting membentak dengan nada keras, begitu menggelegar umpama konser musik rock yang begitu dinikmati para penggemarnya, tapi sayang, kami bukan termasuk penikmat musik rock. Kami dilahirkan dari kalangan penyuka aliran musik jazz, maka dari itu kami tak suka kekerasan, kami hanya suka semua hal yang berbau santai.
Bang Guntur dan anak buahnya sudah menjadi orang-orang yang paling menakutkan yang pernah kami temui di dunia ini. Berada di depannya saja, kami semua akan gemetar dan menutup mata dalam-dalam. Inilah kehidupan kami, para orang yang tak bernasib mujur layaknya orang-orang. Kami adalah para tawanan yang di paksa memunguti uang dari orang-orang di jalanan. Sekedar menyanyi alakadarnya dan memainkan alat musik yang mungkin tak pantas di sebut alat musik. Dan sebagai bayarannya, kami hanya di beri nasi bungkus dan air putih. Pakaianpun jarang diberi. Hingga sangat kusam dan kotor. Kami sadar, kami hanya di perbudak saja. Tapi kami tak mampu berbuat apa-apa, kami hanyalah anak-anak yang tidak tahu bagaimana melawan orang dewasa.
Aku terus saja termangu menatap papan bengkel itu, hingga tak kusadari Dimas sedang melihatiku sedari tadi. Sedangkan si Jefry sudah tertidur disampingku dengan dengkurannya yang amat keras. Dimas yang berada di samping kananku, duduk dengan mendekap kedua tangannya seperti orang kedinginan. “Aku tak percaya Min..’’ sahabat senasibku itu menghela nafas dalam-dalam. Ia bernasib sama denganku, ia dulu anak orang miskin yang kemudian menjadi tawanan sepertiku.
“Tak percaya? kau tak percaya dengan apa Mas?’’ Aku menengok ke arahnya sambil terus memijat kakiku yang amat pegal karena dibuat berlari seharian.
“Aku tak percaya! sekarang aku bebas seperti bintang-bintang yang ada di langit. Aku bebas seperti burung yang terbang di angkasa, dan aku bebas seperti kebanyakan orang diluar sana. Aku bebas Min,..!! aku bebas!!’’ Dimas sedikit berteriak seperti pengacara yang sedang meyakinkan jaksa. Kedua tangannya menengadah keatas mirip posisi berdoa.
Kulihat, baru kali ini Dimas berteriak dengan ekspresi yang lain. Biasanya ia berteriak untuk meluapkan ketidakpuasannya. "Aku juga mas,untung sekali ya kita bisa bebas. Tapi Anton, Imron, dan temen kita yang lain...” Aku memutus perkataanku, rasanya aku tak tega berbicara soal nasib anak-anak yang lain. Aku menatap Dimas untuk mengajaknya bersimpati.
"Sudahlah.., ini semua memang sudah takdir Min! takdir! kau tahu kan min, tidak ada yang bisa mengubah takdir tuhan.’’ Aku tersentak mendengar ucapan Dimas. Takdir? apa ini yang namanya takdir? Kenapa hanya aku, Dimas, dan Jefry yang ditakdirkan bebas? apa takdir kami tertulis sama? Lalu apa takdir itu tak dapat diubah?.
Aku terus bertanya pada diriku sendiri, kemudian kulihati bintang-bintang yang berkelip indah, namun tak juga kudapati jawabannya. Aku pernah mendengar cerita tentang takdir. Jika tidak salah, takdir itu menentukan kehidupan, perpisahan, asmara, dan juga mengenai sebuah keberuntungan.
Aku dan Dimas kini terdiam bisu. Hening dan sepi layaknya suasana malam ini, namun tidak begitu sunyi, karena suara dengkuran Jefry masih terdengar jelas mengisi penuh kesunyian malam. Kulihat, Dimas meluruskan kakinya dan beranjak untuk segera berbaring. Aku yang melihati kedua temanku berbaring, akupun juga ikut berbaring. Aku dan Dimas saling berhadap-hadapan. Kami sama-sama merenung meratapi nasib diri sendiri. Kami sama-sama tak tahu apa yang akan kami lakukan jika esok hari telah menghampiri. “Kau tahu min.., siapa orang yang pertama yang akan kutemui setelah ini?’’ Dimas memberi pertanyaan padaku seperti sebuah teka-teki.
“Siapa? orang tuamu?’’ Aku menjawabnya dengan keyakinan yang penuh bahwa jawabanku akan benar.
“Kau salah min. Bukan orang tuaku. Tapi ada yang jauh lebih ingin aku temui dibanding mereka.’’ Dimas menatapku dengan percaya diri.
“Siapa? Nenekmu? pamanmu? saudaramu? atau bibimu?’’ Aku berusaha menebak siapa saja yang termasuk penting dalam hidup seseorang.
“Tidak. Orang ini spesial min. Dia yang pertama kali menyadarkanku, bahwa aku tidak akan pernah berjalan sendiri. Akan ada orang lain yang akan selalu menemani langkahku.” Dimas sedikit mendongak ke atas membayangkan wajah orang yang di anggapnya spesial.
“Oh ya? wah,,, kalau begitu beruntung sekali ya orang yang kau anggap spesial itu mas” Aku mencoba memberi tanggapan yang mungkin akan membuat sahabatku itu puas. Dimas menengok kearahku. Dia mengernyitkan keningnya, dan menatapku dengan ekspresi agak tersinggung. “Kau juga pasti punya kok min, setiap orang pasti punya seseorang yang dianggap spesial dalam hidupnya. Bahkan kadang, bisa menjadi alasan untuk apa dia bertahan hidup.” Deg! jantungku langsung berdetak begitu kencang. Kali ini aku melihat Dimas seperti orang lain saja. Dia sudah dewasa, benaknyapun akan juga bertambah lebih spesifik dari yang biasanya. Itu kenapa aku terkagum mendengar ucapannya yang satu ini.
“Siapa min, siapa semangat hidupmu?” Dimas berbalik tanya padaku dengan tersenyum kecil. Aku mencoba memberi jawaban pada Dimas. Namun, tampaknya pertanyaan ini agak sulit untuk kujawab. Semangat hidup? siapa ya semangat hidupku? kini malah aku yang bertanya pada diri sendiri. Aku memandang keatas, melihati sang dewi malam, menerawang lalu lalang pemeran panggung sandiwara. Angankupun melayang bersama sinarnya yang menawan.
Dari kejauhan, kutengok sesosok perempuan cukup keriput memanggil-manggil namaku. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari menyusulnya yang berdiri sendiri di depan bangunan bercat hijau di seberang jalan. Semakin kudekati perempuan itu, semakin jelas wajahnya. Ia memakai daster warna merah tua dan mengikat rambut kritingnya. Dia memandangiku dengan tatapan yang tenang. Tatapan yang terdapat kedamaian didalamnya. Tatapan yang penuh dengan kasih sayang tulus. Tatapan indah yang buatku merasa nyaman berada bersamanya. Tatapan manja yang selalu kunanti untuk sekedar mencurahkan seberkas rasa dihati.
Perempuan itu mulai menyunggingkan bibirnya, lalu ia memegang pundak kiriku. “Amin anakku..., ini ibumu nak.” Ibu itu berkata begitu halus, tetapi aku hanya terdiam memandanginya. Aku terus melihatinya tanpa berkedip. Rasanya aku pernah melihat ibu ini. “Kau masih mengingat ibu kan min..., kau tidak lupa pada ibumu kan?”
Aku melihati perempuan ini mulai dari bawah sampai atas. Tiba-tiba aku teringat, dia memang ibuku. Aku langsung memeluknya erat. Pelukan hangat dari ibu membuatku merasa nyaman, hingga aku benar-benar menikmati saat-saat yang sangat berharga ini. Kurasa, begitupun dengan ibu. Ia mendekapku dengan sangat erat. Sepertinya ia tidak ingin kehilangan buah hatinya untuk kedua kali.
“Bu, aku tidak ingin jauh dari ibu” Bisikku pada ibu. Ibu hanya tersenyum dan semakin memelukku dengan amat erat. Seketika itu terdengar suara teriakan beberapa orang. Aku terkejut, gerimis mulia membasahi kami, goncangan hebat terasa membuat tubuhku hampir lepas dari dekapan, aku khawatir aku tak akan merasakan adegan yang manis ini. Aku sedikit bimbang antara benar merasa dan sedikit menghayal, aku mencoba menyadarkan diri, namun hatiku tetap berkata. “Ini memang benar terjadi, Min. Kau tidak sedang bermimpi". Akupun menghiraukan segala bisikan kasar yang ada. Mungkin, hanya fatamorgana yang sedang melintas dalam fikirku, atau barangkali suara orang yang ijin lewat untuk mengingatkanku. Atau mungkin..., apa? suara orang? Ya..Ini suara mereka. Oh, kupikir, anganku memang akan segera turun dan kembali pada kisah semula. Kembali untuk selamanya. Kupikir begitu. Lalu bagaimana dengan ibu?. Ah.., mereka mengganggu saja.
Kulihat, ibu masih tersenyum bahagia seakan tidak mendengar suara teriakan seperti yang kualami. “Aku akan membawa ibu” Bisikku dalam kalbu. Namun, tak tahu kenapa, dunia kami terasa saling menjauh, waktu terasa berjalan mundur, dan suara itu semakin jelas saja. Aku terbelalak, “Min..,bangun Min! Min! bangun!” orang itu meneriakiku seperti berbicara pada orang tuli. Oh, orang itu tak lain sahabatku sendiri. Kini aku tersadar. Didepanku, Jefry menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar sambil terus berusaha melepas pelukanku. Akupun langsung melepasnya.
“Min, sadarlah. Kau sedang bermimpi memeluk gadis cantik apa memeluk seorang nenek? hehehe...,” Jefry tertawa dan segera berdiri menjauhiku. Kini Dimas yang sedari tadi memegang botol minum, juga ikut tertawa terbahak-bahak. Tangannya basah karena terkena air yang digibaskan ke wajahku. Akupun segera bangkit dan menyandarkan punggungku ke tembok, aku tersenyum kecil sambil menoleh ke arah tulisan tambal ban barokah. Oh, bunga tidur rupanya. Dan kalaupun mimpi, aku ingin mengulanginya dalam tidurku. Kupikir, itu semua nyata tetapi hanya sebatas rindu belaka. Ibu.., bagaimana ya kabar ibu disana?.



Komentar
Posting Komentar